KEWAJIBAN
MANUSIA TERHADAP ALLAH
Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah dia mempunyai
kewajiban terhadap Allah sebagai penciptanya, kewajiban tersebut seperti yang
disebutkan dalam hadits :
فقال لي : على حمار عن معاذ بن جبل – رضي الله عنه – قال
كنت رديف النبي صلى الله عليه وسلم ، « أتدري ما حق الله على العباد وما حق
العباد على الله؟ قلت : الله ورسوله أعلم. قال حق الله على العباد أن يعبدوه ولا
يشركوا به شيئاً، وحق العباد على الله أن لا يعذب من لا يشرك به شيئاًِ. قلت : يا
رسول الله أفلا أبشر الناس؟ قال : لا تبشرهم فيتكلوا ».
(أخرجه البخاري ومسلم
والترمذي وابن ماجه وأحمد).
Dari
Mu’adz bin Jabal rodhiyallahu ‘anhu beliau
berkata: Saya pernah membonceng Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam di atas himar, beliau
berkata kepada saya, “Tahukah engkau apa hak Allah atas hamba-hambaNya dan apa hak
hamba atas Allah?” Saya
berkata, “Allah dan RosulNya lebih tahu.” Beliau bersabda, “Hak Allah atas hambaNya ialah
agar mereka menyembahNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun. Dan hak
hamba atas Allah ialah tidak diadzab selama dia tidak menyekutukanNya dengan
sesuatu apapun.” Saya
berkata, “Wahai Rosulullah, bolehkah aku memberi kabar gembira ini kepada
manusia?” Beliau berkata, “Jangan engkau kabarkan, nanti mereka bersandar dengannya.”
Dan dalam Qs Adz dzariyat ayat 56
Allah berfirman yang artinya tidaklah aku menciptakan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku.
Dari dua dalil di atas dapat disimpulkan
bahwa kewajiban manusia terhadap Allah adalah memurnikan beribadah kepadaNya. Ketika berbicara
mengenaik kewajiban kepada Allah tidak terlepas dari ibadah, maka pembicaraan
kita saat ini seputar ibadah.
DEFINISI
Ibadah (عبادة) secara etimologi
berarti merendahkan diri serta tunduk. Di dalam syara’, ibadah mempunyai banyak
definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi ibadah itu antara lain :
1. Ibadah ialah taat kepada Allah dengan melaksanakan
perintah-perintah-Nya (yang digariskan) melalui lisan para Rasul-Nya,
2. Ibadah adalah
merendahkan diri kepada Allah , yaitu tingkatan ketundukan yang paling tinggi
disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi,
3.
Ibadah
ialah sebutan yang mencakup seluruh
apa yang dicintai dan diridhai Allah , baik berupa ucapan atau perbuatan, yang
dzahir maupun bathin. Ini adalah definisi ibadah yang paling
lengkap.
MACAM-MACAM
IBADAH
Ibadah itu banyak
macamnya. Ia mencakup semua ketaatan yang nampak pada lisan, anggota badan dan
yang lahir dari hati. Seperti dzikir, tasbih, tahlil, dan membaca Al-Qur’an;
shalat, zakat, puasa, haji, jihad, amar ma’ruf nahi munkar, berbuat baik kepada
kerabat, anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil. Begitu pula cinta kepada
Allah dan Rasul-Nya, khassyatullah (takut kepada Allah), inabah (kembali)
kepada-Nya, ikhlas kepada-Nya, sabar terhadap hukum-Nya, ridha dengan
qadha’-Nya, tawakkal, mengharap nikmat-Nya dan takut dari siksa-Nya.
Jadi, ibadah mencakup seluruh tingkah laku seorang mukmin jika
perbuatan itu diniatkan sebagai qurbah (pendekatan diri kepada Allah ) atau
apa-apa yang membantu qurbah itu. Bahkan adat kebiasaan yang dibolehkan secara
syari’at (mubah) dapat bernilai ibadah jika diniatkan sebagai bekal untuk taat
kepada-Nya. Seperti tidur, makan, minum, jual-beli,
bekerja mencari nafkah, nikah dan sebagainya. Berbagai kebiasaan tersebut jika
disertai niat baik (benar) maka menjadi bernilai ibadah yang berhak mendapatkan
pahala. Karenanya, tidaklah ibadah itu terbatas pada syi’ar-syi’ar yang biasa
dikenal semata.
SYARAT DITERIMANYA IBADAH
Agar bisa diterima, ibadah
disyaratkan dengan :
1.
Ikhlas karena Allah semata, bebas dari syirik besar dan kecil,
2.
Sesuai dengan tuntunan Rasulullah .
Syarat pertama adalah
merupakan konsekuensi dari syahadat laa ilaaha illallah, karena ia mengharuskan
ikhlas beribadah hanya untuk Allah dan jauh dari syirik kepada-Nya.
Sedangkan syarat yang kedua adalah konsekuensi dari syahadat
Muhammad Rasulullah, karena ia menuntut wajibnya taat kepada Rasul, mengikuti
syari’atnya dan meninggalkan bid’ah atau ibadah-ibadah yang diada-adakan. Allah
berfirman, “(Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan
diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi
Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka
bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 112)
Dalam ayat diatas
disebutkan “menyerahkan diri” (aslama wajhahu) artinya memurnikan ibadah kepada
Allah . Dan “berbuat kebajikan” (wahuwa muhsin) artinya mengikuti Rasul-Nya .
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,
“Inti agama ada dua pokok yaitu kita tidak menyembah kecuali kepada Allah , dan
kita tidak menyembah kecuali dengan apa yang dia syari’atkan, tidak dengan
bid’ah. Sebagaimana Allah berfirman, “Barang siapa mengharap
perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaknya ia mengerjakan amal yang saleh dan
janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS.
Al-Kahfi: 110). Yang demikian adalah manifestasi (perwujudan) dari dua kalimat
syahadat Laa ilaaha illallah dan Muhammad Rasulullah.
Pada yang pertama,
kita tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Pada yang kedua bahwasannya Muhammad
adalah utusan-Nya yang menyampaikan ajaran-Nya. Maka kita wajib
membenarkan dan mempercayai beritanya serta mentaati perintahnya. Beliau
telah menjelaskan bagaimana cara kita beribadah kepada Allah , dan beliau
melarang kita dari hal-hal baru atau bid’ah. Beliau mengatakan bahwa bid’ah itu
sesat” (Al-Ubudiyah, hal 103; ada dalam Majmu’ah Tauhid, hal. 645)
RUKUN IBADAH
Dalam beribadah hendaklah
ada tiga unsur yang menyertainya yaitu:
hubb (cinta), khauf (takut) dan raja’ (harapan).
Rasa cinta (hubb) harus dibarengi dengan sikap rasa rendah diri,
sedangkan khauf (takut) harus dibarengi dengan raja’ (harapan). Dalam setiap ibadah
harus terkumpul unsur-unsur ini. Allah berfirman tentang sifat
hamba-hamba-Nya yang mukmin, “Dia mencintai mereka dan mereka
mencintai-Nya.” (QS. Al-Maidah: 54).
Dan juga firman-Nya, “Adapun orang-orang yang beriman
sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)
Dalam perkara ini, Allah juga berfirman menyifati para
Rasul dan Nabi-Nya, “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu
bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a
kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk
kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya: 90)
Sebagian salaf
berkata, “Siapa yang menyembah Allah dengan rasa hubb (cinta) saja maka
dia zindiq (istilah untuk setiap munafik, orang yang sesat dan mulhid). Siapa
yang menyembah-Nya dengan raja’ (harapan) semata maka ia adalah murji’ (orang
Murji’ah, yaitu golongan yang mengatakan bahwa amal bukan dari iman. Iman hanya
dengan hati saja). Dan siapa yang menyembah-Nya hanya dengan khauf (takut)
saja, maka dia adalah harury (orang dari golongan Khawarij, yang pertama kali
muncul di Harurro’, dekat Kufah, yang berkeyakinan bahwa orang mukmin yang
berdosa adalah kafir). Siapa yang menyembah-Nya dengan hubb, khauf dan raja’
maka dia adalah mukmin muwahhid”.
Ketika seorang muslim
beribadah dengan rasa cinta maka akan timbul keikhlasan dalam beribadah, dan
ketika dengan rasa khauf akan timbul rasa taat dalam menjalankan perintahNya
dan takut melanggar laranganNya dan ketika ada rasa raja’ akan menjadikan
seorang mukmin semangat dalam beribadah.
PENUTUP
Manusia diciptakan di
muka bumi tidak dengan sia-sia, Allah menciptakan manusia dengan tujuan agar
manusia berbadah kepadaNya, maka sebagai seorang mukmin yang sadar akan
kewajiban terhadap Rabbnya harus memurnikan ibadah hanya untuk Allah semata.
Wallahu a’lam bishowab.